KOTA CIMAHI – Malam mulai merambat di Kampung Adat Cirendeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Sabtu (11/7/2026). Di bawah langit yang perlahan menggelap, ribuan warga terus berdatangan. Mereka memenuhi setiap sudut area pertunjukan, duduk beralas tikar, berdiri di pinggir jalan, hingga rela berdesakan demi menyaksikan satu pertunjukan yang telah menjadi denyut tradisi masyarakat Cirendeu: wayang golek.
Denting gamelan mulai mengalun, disusul suara merdu sinden yang memecah keheningan malam. Tak lama kemudian, Dalang Kanha Ade Kosasih Sunarya tampil membawa kisah demi kisah yang sarat petuah kehidupan. Setiap gerakan wayang, setiap dialog, dan setiap gurauan para punakawan disambut tawa sekaligus tepuk tangan penonton.
Bagi masyarakat Cirendeu, wayang golek bukan sekadar hiburan. Ia adalah ruang berkumpul, ruang belajar, sekaligus cara menjaga agar warisan budaya Sunda tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi.
Pagelaran tersebut menjadi puncak rangkaian Tutup Taun Ngemban Tahun Saka Sunda 1959–1960, sebuah tradisi adat tahunan yang telah diwariskan turun-temurun sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi sekaligus penanda pergantian Tahun Saka Sunda.
Sejak sore hari, suasana kampung adat sudah dipenuhi pengunjung dari berbagai daerah. Orang tua, remaja, hingga anak-anak tampak larut dalam atmosfer budaya yang kian jarang dijumpai di tengah kehidupan perkotaan.
Sesekali gelak tawa pecah ketika tokoh Cepot melontarkan celetukan khas yang menghibur. Namun ketika kisah memasuki bagian yang penuh nasihat tentang kejujuran, pengabdian, dan kehidupan bermasyarakat, ribuan pasang mata kembali fokus mengikuti jalannya lakon.
Di antara kerumunan penonton, Ade Ikhsan, warga Kelurahan Cipageran, mengaku dirinya hampir tidak pernah melewatkan pagelaran wayang golek di Kampung Adat Cirendeu.
“Saya setiap tahun selalu datang dan menyaksikan pagelaran wayang golek dari mulai zaman dalang Asep Sunandar Sunarya sampai sekarang,” ujarnya.
Baginya, ada ikatan emosional yang sulit dijelaskan setiap kali berada di tengah masyarakat Cirendeu saat malam Tutup Taun Ngemban berlangsung.
“Saya sangat suka dengan adanya pagelaran wayang golek yang diadakan di Kampung Cirendeu ini setiap tahun. Selain hiburan, ini juga ngajarin kita tentang budaya Sunda dan nilai kehidupan,” tuturnya.
Tradisi Tutup Taun Ngemban sendiri tidak hanya berhenti pada pertunjukan wayang. Sejak pagi, masyarakat adat telah melaksanakan berbagai ritual, mulai dari doa bersama, prosesi adat, hingga makan nasi huma secara berjamaah sebagai simbol rasa syukur atas berkah alam yang telah diberikan sepanjang tahun.
Rangkaian prosesi tersebut menjadi cerminan kuatnya hubungan masyarakat Cirendeu dengan nilai-nilai leluhur yang hingga kini masih dipertahankan. Di tengah perubahan zaman, warga memilih menjaga identitas budaya mereka melalui tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kepala Kampung Adat Cirendeu menyampaikan apresiasinya atas antusiasme masyarakat yang terus hadir setiap tahun untuk meramaikan kegiatan tersebut. Menurutnya, keberlangsungan tradisi tidak hanya bergantung pada masyarakat adat, tetapi juga pada kepedulian generasi muda untuk mengenal dan mencintai budaya Sunda.
Harapan itu terasa nyata malam itu. Di sela keramaian, tampak anak-anak duduk berdampingan dengan orang tua mereka, menyimak setiap adegan wayang dengan penuh rasa ingin tahu. Sebuah pemandangan sederhana yang menjadi pertanda bahwa tradisi masih memiliki tempat di hati generasi penerus.
Menjelang dini hari, pagelaran pun usai. Ribuan penonton perlahan meninggalkan lokasi dengan wajah puas. Alunan gamelan berhenti, namun pesan-pesan yang disampaikan melalui wayang golek seolah masih bergema di benak mereka.
Di Kampung Adat Cirendeu, malam itu bukan sekadar penutup tahun adat. Ia menjadi pengingat bahwa budaya akan tetap hidup selama masih ada masyarakat yang bersedia merawat, mencintai, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. (Harry)






































